Days in Madinah

Disclaimer: All posts with label Wanderlust & World Traveler will be written in Bahasa Indonesia because it may contain of information for Indonesian people.

Sebenarnya agak males blogging beberapa minggu belakangan ini. Lebih-lebih pas puasa.. Praktis jadi tambah males. Mau nulis pun bingung apa yang mau ditulis, rasanya kayak gak punya otak. FYI, sebagai coffee addictive, agak susah buat aku kerja tanpa nelen kafein. Jadi bisa dibayangkan selama bulan puasa ini lebih banyak unproductive-nya daripada productive-nya. Tapi kalau gak segera ditulis, takut keburu lupa jalan ceritanya, nanti gak ada yang bisa dikenang ketika sudah tua dan tak berdaya.

11 Mei 2017
Ceritanya mau recap jalan-jalan selama di Saudi Arabia. Mulai dari pergi sampai pulang. Perginya sih masih bahagia yaa.. Masih semangat. Aku dan Baber (nama alias Nabil :p) naik pesawat Saudi Arabian Airlines. Pesawatnya besar, nyaman, pramugarinya pun cantik-cantik. Selama di pesawat kami gak tidur, biasalah ada yang norak karena baru pertama kali penerbangan jauh & naik pesawat full entertainment (baca: Baber). Selama di pesawat mainin games yang ada di layar belakang kursi, terus nonton kartun, nonton Spongebob, apalah-apalah aku gak perhatiin lagi dia mau ngapain. Makanannya pun enak-enak, dikasi makan 2x, minum setiap saat tinggal minta. Udahlah gak usah diceritain panjang lebar, sebenarnya gak ada aktivitas yang penting di dalam pesawat ^^

Mendaratlah kami di Madinah, terus naik bus dari bandara ke hotel. Sekitar jam 02.00 dini hari waktu Saudi Arabia. Kami menginap di Hotel Al-Mukhtara International *4. Sampai hotel kami makan fast food yang terhits se-Arab, namanya Al Baik. Semacam KFC, McD begitu-begitulah.. 1 porsi isinya 3 ayam, kentang & roti bun. Kalau penasaran rupanya seperti apa silahkan googling sendiri ya ^^ Abis makan berangkat ke Masjid Nabawi yang jaraknya dekat sekali dari hotel. Buat apa? Kan belum adzan subuh? Jawabannya buat shalat jamak Magrib & Isya. Ya Allah jam 02.30 dini hari donk baru shalat Magrib-Isya :( Tapi jangan bayangkan di jalan & di masjid sepi yaa... Salah banget! Justru di masjid masih banyak bocah lari-larian. Bocah beneran bukan hantu.

Selesai shalat baliklah kami ke hotel.. Lanjut potekin ayam-ayam Al Baik yang tadi masih nyisa. Biar makannya 2 ronde tapi tetep sih gak habis. 1 porsi orang Arab = 2 porsi orang Indonesia. Selesai makan gak berani tidur karena masih harus shalat subuh jam 04.30. Begitu adzan, balik lagi ke masjid Nabawi. Shalat di sana, terus doa-doa sepenuh jiwa raga & balik ke hotel. Sudah bisa tidur? Beluuuuum.. Masih harus ke Raudhah atau makam Rasulullah SAW. Raudhah ini gak bisa dikunjungi setiap saat, ada jam-jamnya & ketika jamnya tiba, ramainya ampun-ampun. Desak-desakan nyaris bengek. Sebagian orang percaya kalau shalat 2 raka'at di Raudhah ini besar sekali keutamaannya. Sebagian ya, bukan semua muslimin, dan aku termasuk yang mengimani bahwa shalat di Raudhah adalah bid'ah, tidak ada tuntunan berdasarkan hadist para sahabat Rasulullah SAW, jadi aku gak shalat di sana. Terus ngapain donk dibelain desak-desakan sampai bengek? Penasaran aja sama dalamnya, biar tau rupanya seperti apa, toh udah jauh-jauh (dan mahal-mahal) ke sini masa gak dicoba. Setelah hanya melihat orang-orang shalat & adu kekuatan saling pepet, aku pun keluar. Akhirnya bisa bernafas dengan layak :') Pulang deh ke hotel sambil sepanjang jalan window shopping. Liat-liat aja sih gak beli karena gak pegang uang riyal sama sekali, belum nemu ATM atau Money Changer. Sampai hotel tidur dengan bahagia, bangun untuk shalat di Masjid Nabawi, pulang tidur lagi, pas adzan ke masjid lagi, begitu terus sampai besok.

Masjid Nabawi ini sebenarnya bagus, tapi aku kurang suka karena aturannya terlalu ketat, terutama dalam hal pemisahan antara jamaan wanita & jamaah pria. Dari gerbang masuknya pun sudah dipisah.. Masuk ke dalam masjidnya gak usah ditanya lagi sudah pasti dipisah juga. Dan Baber ini sudah di usianya gak boleh di tempat jamaah wanita. Nah lho kan?! Padahal aku sudah bilang "he's alone" cuma tetap gak dibolehin hiks.. Ya masak anaknya shalat sendiri di tempat laki nanti ilang aku sama siapa donk :'( Tapi jangan khawatir... Kami masih bisa shalat di halaman masjid. Yaa walaupun gak pakai AC seperti di dalam masjid. Syukurlah ada hi-tech umbrella yang besar dan mengeluarkan uap dingin di seluas halaman, jadi gak panas-panas banget walaupun suhu mencapai 40 derajat celcius. Sepoi-sepoi kayak di pinggir pantai lah... Yang shalat di halaman masjid pun banyak. Kebanyakan ibu-ibu yang bawa banyak anak, shalatnya di halaman, lebih santai karena kalau anaknya berisik gak akan ditegur sama laskar wanita (polisi) di Masjid Nabawi. FYI laskar wanita ini lumayan galak juga, bikin jiper lah pokoknya. Yang bawa makanan atau cemilan juga pilih shalat di halaman, karena gak boleh bawa makanan ke dalam masjid. Padahal habis shalat banyak yang piknik-piknik cantik di halaman masjid sambil makan apalah.

Selain soal pemisahan jamaah yang ketat, aku kurang suka karena Masjid Nabawi ini pilih kasih. Yang di dalam masjid dikasi air zamzam sedangkan yang di luar cuma air minum biasa semacam air PAM yang udah dimasak & siap minum. Memang sih sama-sama dingin, tapi tetap aja berasa kurang faedahnya gitu jauh-jauh (dan mahal-mahal) ke sini kalau cuma minum air mineral biasa. Tapi daripada dehidrasi, oke aja lah minum air mineral, yang penting dingin. Daripada nyelonong bawa Baber masuk masjid demi segelas air zamzam ujung-ujungnya malah diomelin sama laskar kan? Udah lah mereka ngomel-ngomelnya pakai bahasa Arab berasa denger orang ngaji tapi teriak-teriak. Masih agak bahagia karena hotel kami dekat dengan Baskin & Robins. Jangan kira harga BR di Arab semahal di Indonesia yaa... Di sini mah murah udah kayak beli es krim Wall's. Mau beli tiap hari juga gak bikin kantong kempes.


Hari pertama, anaknya happy donk, secara pertama kali ke Arab :)


Gate 25. Keluar & masuk Masjid Nabawi selalu dari gate ini, biar ingat jalan pulang. Informasi singkat tentang hi-tech umbrella aku tulis di paragraf terakhir.


Kok bisa foto berdua? Yaiyalah pakai kamera depan.


13 Mei 2017 - Malam terakhir di Madinah. Special moment karena bisa melihat hujan yang turun di tanah Arab. Ketika itu semua orang suka cita. Yang anak-anak keluar bermain hujan, sementara yang dewasa berdoa & mengabadikannya dengan HP. Karena turunnya hujan adalah kejadian langka di Arab.


Setelah shalat dzuhur, shalat terakhir di Masjid Nabawi. Photo shot by Baber. Pintar kan? Anak aku tuh.


Oh iya... Sebenarnya kerjaan kami gak cuma hotel - masjid - hotel - masjid aja. Tanggal 13 Mei 2017 sempat jalan-jalan ke Masjid Quba, Pasar Kurma, Jabal Uhud & Masjid Qiblatain. Tapi aku gak foto-foto karena males, panas banget, hehehe. Lagipula setiap umroh pasti ke tempat-tempat ini, jadi sebelumnya sudah pernah berkunjung & foto juga.

Tentang hi-tech umbrella (istilah ini aku bikin sendiri), terdapat 27 kubah & 105 payung yang dikendalikan jaringan komputer canggih dengan serangkaian sistem kontrol & sensor otomatis untuk memudahkan pengendalian sesuai cuaca setempat. 105 payung di pelataran halaman Masjid Nabawi otomatis akan menyemburkan udara sejuk secara berkelanjutan pada saat sudah membuka sempurna. Dari berbagai literatur disebutkan bahwa pembangunan payung dalam proyek perluasan Raja Fahd melibatkan banyak pihak. Mulai dari proses perencanaan, pemilihan material, pemilihan teknologi yang tepat, rancang bangun, pemilihan para seniman dan tenaga ahli hingga ke proses pembuatan, perakitan, pemasangan, hingga perawatan. Proses pembuatannya dikerjakan secara terpisah di berbagai negara sesuai dengan spesialisasi yang dibutuhkan. Mulai dari Saudi Arabia sendiri, Kanada, Inggris, Swiss, Maroko, Kenya, Jerman, Malaysia, dan jangan lupa pula jasa dari tenaga kerja Indonesia.

Little Angel in Heaven on Earth

Disclaimer: All posts with label Wanderlust & World Traveler will be written in Bahasa Indonesia because it may contain of information for Indonesian people.

Tanggal 11 Mei 2017 adalah perjalanan umroh pertama untuk anakku Nabil. Usianya saat itu 6 tahun 9 bulan. Aku sendiri pertama kali diajak umroh oleh orangtua saat berusia 9 tahun. Oleh karena itu aku selalu ingin mengajak anakku umroh pertama kali di usia yang sama denganku. Tapi ternyata dia lebih beruntung :) Dia bisa umroh di usia 3 tahun lebih muda dari aku saat itu. Simply because my son has to be better in everything than me, his mommy.

Aku gak akan tulis panjang lebar prosesnya, karena untuk umroh selalu punya proses & ittinerary yang sama untuk semua orang. Kami mendarat di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah. Setelah 3 hari di Madinah kami melanjutkan perjalanan ke Makkah. Sampai di Makkah waktu shalat Magrib, kemudian lanjut shalat Isya. Setelah shalat Isya rangkaian umroh kami dimulai.

14 Mei 2017
Nabil termasuk anak yang 'dewasa' untuk ukuran seusianya. Dia sangat kooperatif, gak pernah menangis, gak mengeluh, sangat bisa diandalkan sebagai teman perjalanan. Kami tawaf 7 kali memutari Ka'bah. Awalnya dia memang sedikit bingung, ngapain muter-muter? Tapi setelah aku suruh berdoa, berdoa apa aja kepada Allah SWT, dia mulai bisa memaknai esensi dari tawaf. Selesai sudah 7 putaran, kami lanjut shalat 2 rakaat di belakang maqam Ibrahim AS. Setelah shalat, kami istirahat sebentar. Ngobrol supaya dia gak bosan dan foto-foto. Kami gak punya foto berdua, sederhana aja sih karena gak ada yang fotoin, jadilah semua foto Nabil aja.


Nabil between Ka'bah & Zamzam Tower


He started tawaf with big smile


He ended tawaf with bigger smile


Selesai shalat 2 rakaat di belakang maqam Ibrahim AS, kami minum air zamzam sambil berdoa macam-macam. Yang pasti berdoa supaya hidup lebih bahagia :) Untuk jama'ah laki-laki disunnahkan membasuh kepala dengan air zamzam, jadilah Nabil rambutnya basah macam habis keramas.

Ibadah kami lanjutkan ke sisi lain Masjidil Haram, menuju bukit Safa dan Marwa untuk sa'i sebanyak 7 kali. Di luar dugaanku, Nabil sangat antusias & masih tetap ceria walaupun sudah lewat jam 10 malam. Aku pikir dia bakal lelah jalan dan minta digendong karena sebelumnya sudah tawaf. Tapi ternyata gak sama sekali. Dia masih kuat berlari sambil bercanda dan tertawa. Sesekali memungut sampah kecil yang ada di lantai antara bukit Safa dan Marwa kemudian membuangnya ke tempat sampah. Iya, dia memang kurang kerjaan :) Sepanjang sa'i juga gak pernah berhenti untuk minum air zamzam. Lanjut aja terus sampai selesai dan tetap ceria. Ini proses sa'i yang aku rekam sebentar dengan kamera handphone. Padahal kalau nonton videonya di handphone kualitas gambarnya bagus-bagus aja. Giliran upload di blog kualitasnya jadi so-so.


video 


  video


Jam 00.53 waktu Saudi Arabia, sa'i kami selesai. 7 kali bolak-balik antara bukit Safa dan Marwa sambil berdoa dan sebelumnya 7 kali memutari Ka'bah dengan penuh doa juga. Selesai! Kami kembali ke hotel untuk tahalul atau memotong rambut seruas jari untuk perempuan dan mencukur habis untuk laki-laki. Tahalul menandakan akhir dari ibadah umroh dan kami sudah bebas dari larangan selama berihram. Rambut sudah dipotong, mandi, kemudian tidur. We're happy and blessed, Alhamdulillah.